Tampilkan postingan dengan label Buku Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Harian. Tampilkan semua postingan

Baiklah, Aku Pulang ke Pernaunganku...


Baiklah, aku pulang ke pernaunganku
Kembaraku hanya menoktahkan setitik pilu
Mengusik ketenteraman para pemuja rindu
Memisah ruah kata-kata penjalin kalbu

Langkahku memang tak kuarah
Sejalan setapak entah kemana anak panah
Sempat kutahankan, karena bertengkar dengan gundah
Namun sang raja HATI tak mau mengalah

Aku tak ingin menyelam lagi
Lagi-lagi, hati memungkiri
Aku tak ingin berlari sendiri
Sekali lagi hati menghakimi

Aku menyelam terlalu dalam
Aku berlari terlalu jauh

Dunia apakah ini?
Hati tak mungkin bisa berpolah dan menyahutnya
Sedangkan otak telah dikebiri habis-habisan
Menciut, tak berwibawa .........
Tak kuasa menyematkan jawabnya

OOOOOHHHHHH!
Lebam dan redam kau hati!
Bumerang terlempar berbalik gores sisi lemahmu!
Pisau terhunjam meleset sayat dinding rapuhmu!
Dan pedang terhunus tancap inti raaasaaamuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!

Aaaarrgghhhhh!!!!!!!!!!!!

........
.......

Dan aku.....
Tergelepar dalam perih dan pedih permainanmu........
Mataku nanar menatap wujudmu
Kasihan kau hati.........
Namun....
bangsat pula kau hati!!!

........

Bangkit, merangkak, terseok, merintih.........
Di kejauhan terlihat titik abadi tempatku mengabdi
Ruang gelap tempatku bersembunyi
Meringkuk dan bersimpuh tanpa sapa menghampiri
Baiklah, aku pulang ke pernaunganku.......


Solo, 30032011, 03.10AM

Ocehan RASA-ku tentang MUTIARA-mu

Sekedar ocehan kegelisahan, kegamangan, dan kekalutan HATI akan RASA yang tak pernah terujarkan...
Genggaman jari yang terus ditahan dengan sepenuh tenaga.....
Agar tak memudar....agar tak berpendar......
Perumpamaan rasa yang tak pernah terkatakan
Tertahan..
Atau lebih tepatnya: Dikekang...


Untaian senyum ketika melihat mutiara-mutiaramu bertebaran
Kecerahan pikir dan kemurnian hati
Bercampur dengan aroma harum pesona auramu....
Seperti itukah dirimu jika nyata?
Aku ingin melihatmu dalam balut kulit dan wujudmu
Aku ingin mendengar suaramu lepaskan nada-nada syahdu
Aku ingin menatap nanar bola mata beningmu

Membaca gerak-gerikmu melalui kata, tak puas aku....
Lirik-lirikmu terlalu indah untuk sekedar ditulis dan dibaca....
Selayaknyalah aku memetik nada dan kau menyanyikannya
Seumpama HATI bertemu PIKIR; sebuah perpaduan sempurna...

Lalu......................

Taaaakkkkkkkk!!!!!!!!!!

Senar gitar ini putus seketika, dan buyar angan dalam perlamunan......
Ah,,,,, dasar dunia baru itu!
Nyata tapi maya, maya tapi nyata.......
Maya karena semua hampir seperti tidak sesungguhnya
Nyata karena ini hati benar-benar merasakan sentuhannya

Ah maya!
Ah nyata!
Adakah batas antara kalian berdua?
Hah?! Sebuah garis tipis tak kasat mata?!

"Kerinduan itu nyata", kataku!
Waktu dan ruang tak lagi menjadi cermin dan kerangka
Karena rasa adalah bentuk tak berdinding, tak berbatas, tak terlihat
Dia hanya bisa disentuh dengan HATI, sang penguasa RASA....
dan hati itu pasti bertebar dalam lautan........................C_I_N_T_A dan A_S_M_A_R_A!

Sebodoh itukah aku hingga akhirnya menaut ujungnya pada dua kata itu?
Sepolos itukah aku mengartikan "sekedar rasa" ini?
Tidak!
Aku tahu betul apa kata-kata itu, sebuah pengertian....
Sebuah pemahaman....
Yang tak mungkin terdefinisikan dengan jutaan kata-kata
Bahkan jika semua kata di dunia ini dikerahkan,
Tak kan mampu memberikan pengertian sejelas-jelasnya, segamblang-gamblangnya.........
Karena RASA yang akan menerjemahkannya
Dalam tindak dan tutur kata....
Dalam kerlingan mata dan senyuman tersipu malu
Dalam kasih dan pengorbanan
Dalam kesetiaan dan perjuangan............

Adakah kesempatan bagiku untuk menerjemahkannya bagimu?
Adakah sebuah lobang kecil di dadamu agar aku dapat mengintip isi hatimu?
Ah.......
Sebuah perlambang akan nampak nyata bagiku
Sekejap kedipan akan tampak jelas di mataku
Sebutir pasir pertanda jawab menjadi batu permata dalam genggamku...

Ah,,,,,ocehanku..........

"Just For You"
03.05 AM, Solo
Just Another Facebook Note........

Just Another Facebook Note........

Jika harus dinoktahkan lagi dalam bentuk kata-kata, maka yang ada adalah lenguhan tak bermakna. Tapi biarlah....aku tuliskan saja.

"Mengolah Rasa" atau "Mengolah Kepala" atau "Mengolah Keduanya"?

Seperti yang telah aku pelajari dulu, dari kehidupan, dari pertikaian, dari percintaan.... Rasa berwujud Gelora...... Rasa adalah hal yang tak bisa diukurkan dengan hitungan matematis dan semua rumusan statistika. Oleh karena itu, tak mungkin ada RASA eksakta. Wujudnya lah yang membuat kita tahu sedalam apa sebuah rasa..... Bentuk-bentuk ejawantahnya lah yang kemudian membuat kita meresponnya kembali dengan rasa.

Definisi? Hanyalah sebuah usaha untuk membacanya..... Deskripsi? Hanyalah sebuah ikhtiar untuk menerkanya.....

Seperti halnya ketika misalnya kita harus memerankan seseorang tokoh dalam pertunjukan drama, kita harus "menjadi" dia...."mengubah" diri menjadi dia......."berbuat" sebagai dia...... Dengan simpati, empati, pendalaman, pengalaman, pengamatan, dan kemudian melepaskan seluruh atribut diri seolah kita adalah raga kosong yang siap dimasuki jiwa yang baru..... Rasa,,,,,logika,,,,,,,,intepretasi........manifestasi.......dan eksekusi! All in one, one in ALL....

Selalu ada bentuk keterlibatan dari semua sisi, dari semua posisi, dan semua ada dalam sebuah porsi....

We're human beings living in both spiritual and physical worlds.... Both are united.

Wisdom? You asked me about wisdom? I don't know.... every human being is wise..... they have their own wisdom.....
What I know is.... when I feel, I think..... and when I think, I feel.....

Sejauh manakah kau berbicara tentang rasa jika kau hanya mengucapkan logika? Jangan2 kau me'rasa'kan logika dan me'logika'kan rasa?

Rasa jauh dari kata pengukuran dan keterlibatan logika dalam penafsiran....rasa hanya bisa dijamah dengan rasa...Rasa tak pernah memandang apa itu kaya dan miskin, bodoh dan pintar........

Akan tetapi,,,,,, rasa tanpa logika akan lumpuh, kontrol diri akan hilang, cabai pun terasa manis, dan anjing pun akan bernyanyi

Seperti halnya bermain drama menjadi tokoh yang sangat bersedih namun tak kuasa menghentikan tangisnya pada saat pertunjukan selesai dan tak mampu  kembali menjadi diri sendiri.............

Namun benar, aku memang mengagungkan rasa....karena dengan rasa, aku merasa menjadi sebenar manusia...... Aku hanya ingin berada pada 'porsi' sederhana....aku tak bisa dan tak mau menilai orang karena otaknya saja, karena gaya hidupnya, karena materinya, karena trah-nya, karena religi-nya, karena dia bisa menguasai segalanya.,,,,

Aku lebih mencintai jiwa2 yang indah, yang selalu menyenandungkan kerendahan hati tak terkira......
di bawah jembatan kumuh mereka menyanyikan kebersihan hati, di balik kemiskinan materi  mereka menebarkan kekayaan senyum keikhlasan......

Keangkuhan akan rasa hanya akan menghancurkan.......apalagi jika dibumbui kesombongan logika yang tak terkendali, semua menjadi binasa....

Biarkan burung terus mengepakkan sayapnya,,,,,,, dan jangan paksa ayam untuk terbang karena sebenarnya dia telah mampu mengepakkan arti dan makna hidupnya.....

Brotherhood and Sisterhood, One Family, One Family!

Haven't I seen you somewhere before?

Hanging out on the stage on or on the dance floor

Trying to be a part of what you see

Brotherhood and Sisterhood - One family!

One Family, One Family!
.................                            (Warzone)

Sepenggal lirik dari Warzone, sebuah band old-school hardcore kawakan, yang ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Yah, sekedar membuat catatan kecil sebagai selingan. Sebagai tumpahan uneg-uneg yang masih terasa gegap gempitanya. Persaudaraan dan Kekeluargaan. Ternyata masa-masa itu benar-benar memberi pengaruh pemikiran yang tidak bisa dilepaskan.

Jika dipikirkan lebih mendalam, ada perubahan dan perbedaan yang sangat curam. 

Malam tadi, mampir di HIK (Hidangan Istimewa Kampung) ternyata memberikan kesan yang tak terlupakan. Sudah sekian lama aku 'keluar' dari dunia pengembaraan dan 'memapankan' diri dalam "kepastian". Malam tadi benar-benar memantik semangat untuk kembali tidak berpihak kepada 'kemapanan'. 

Bapak-bapak yang sudah tua, penjual hik yang setia di depan air jerangannya, anak-anak muda yang tertawa terbahak ketika ada sesuatu yang menurut mereka lucu, ditemani beberapa teguk teh jahe panas. Sebuah 'perkumpulan' terMEGAH yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Semua terlibat dalam pembicaaan seru, dari rencana tetangga yang hendak 'mantu' (punya hajatan kawinan) hingga tentang kondisi negara ini. Dan,  dengan diiringi bunyi 'ngiiiiiiing' di telinga, aku mulai menyadari, kita semua bersaudara, tanpa status pembeda,  Kita tertawa, kadang bersedih, bahkan ada bapak tua yang saking semangatnya tertawa malah mengeluarkan air mata......

Pagi ini, kondangan mantu  anak tentangga. Semua anak muda dikerahkan untuk membantu suksesnya hajatan ini. Sebuah hal fenomenal yang (menurutku) sangat hebat. Semua bergerak, bergiat, sigap, tanpa ada keluh kesah. Hal yang saat ini sudah langka (lagi-lagi menurutku). Wajah-wajah yang telah terbalut modernitas, namun masih berjiwa 'desa'. Senyum-senyum berhiaskan rasa saling memiliki, saling berbagi, saling memberi. Bekerja dengan canda tawa bahagia, tanpa beban, tanpa rasa enggan. Sebuah hal yang akan sangat sulit kutemui di tempat kerja. Di mana semua memburu rupiah, saling jegal, saling membuat senyum palsu dan tawa yang dipaksakan.

Inilah persaudaraan, berbicara tanpa memandang derajat lawan bicara, bekerja tanpa menunggu akan datang imbalan apa. Persaudaraan hakiki antar umat manusia, sebuah cinta. 
 Looking around

I see many kids

What do you see?

Just one truth: our reality!
Sekali lagi, aku memandang wajah-wajah mereka....dan aku menitikkan air mata. Bukan, bukanlah kesedihan. Namun kebahagiaan mendalam yang tidak bisa lagi diekspresikan hanya dengan tawa. Keharuan... 

Sebuah semangat untuk menumbuhkan. Sebuah kesadaran bahwa manusia sejatinya adalah saudara, dalam sebuah keluarga besar.

Apabila ada apatisme datang, hancurkan! 
Brotherhood and Sisterhood, One Family, One Family!

Solo, 13 Maret 2011

Makan

Berbeda.... katanya. tapi menurutku sama. 'Makan', punya makna berjuta, walopun toh akhirnya kembali ke mulut dan perut juga. apabila kita tambahkan kata 'enak' di belakangnya dan menjadikannya frase 'makan enak', toh akhirnya sama saja ujung2nya. meskipun rasanya lebih enak dan lebih puas memakannya, toh ujung2nya tetap saja. yang membedakan cuma," aku makan untuk mendapatkan 'keenakan'," dan "aku makan untuk membuat diriku 'hidup' ". bagiku, semua makanan itu enak karena membuat diriku hidup. kalo ujungnya untuk kenyang dan hidup, makan ayam dan makan tahu itu sama saja. yang membedakan hanya di mulut. dan mulut itu merupakan sumber, sumber kebaikan dan juga kejahatan. selain itu mulut juga sumber nafsu dan angkara. dan apa yang disebut 'puas' itu....relatif, coy! puas di mulut, di perut, atau di hidup? makan enak bisa bikin puas di mulut, tapi belum tentu puas di perut, karena ternyata bisa-bisa memancing muncratnya asam lambung berlebihan sampai lambung luka, lecet, atau bahkan jebol, dan pastinya puas di hidup lebih tak teraih lagi. kalo hanya untuk menuruti mulut namun menghancurkan hidup, buat apa makan enak? toh seperti yang sudah-sudah, akhirnya akan menjadi limbah yang kurang lebih bentuknya, baunya, dan kualitasnya sama saja.

menyederhanakan dan mengharfiahkan makna kata 'makan' sepertinya amatlah penting, agar tidak ada penyalahgunaan kata itu.

Perenungan Di Ambang Pergantian Rotasi Waktu











Tik....tik.....tik.....
Tik....tik.....tik.....
Tik....tik.....tik.....
Tik....tik.....tik.....

Selirih bunyinya, setajam rasanya
ketika melihat dentuman waktu terhela

Hey!
Detik, jam, hari, minggu, bulan, dan....tahun
Melintas bagai cahaya, berranjak di dalam lamun

Ini tahun hampir berlalu
Matahari segera kembali ke awal baru

Tengok ke belakang
Tawakah?
Lepaskan, lampiaskan
Tangiskah?
Sesalkan, isakkan

Tengok hari ini
Puaskah?
Banggakan, Teruskan
Kecewakah?
Lupakan, tinggalkan

Tengoklah ke depan!
Bulir-bulir embun baru berjatuhan
Kesegaran asa segera menjelang
Rencanakan, persiapkan!
Langkahkan, perjuangkan!

Sesungguhnya hidup adalah untuk berjalan melewati reruntuhan
Dan menulis kembali peta yang telah luntur serta berserakan
Selamat Tahun Baru, Kawan!!

Untuk Mereka yang Tak Lelah Berkata Indah


Sepertinya malam segera beranjak
Lepas sudah tempat berpijak
Pernaungan ini tak lagi membekas jejak
Meski tertulis beribu sajak....

Kelu lidahku untuk mengulas kata
Karena duniaku tak lagi berjuta
Ini aku dan nyata
Tak lagi bersahabat dengan tinta

Kawanku, bukan aku ingin menghilang
                 bukan aku ingin menghalang

Cintaku, Ada saat dunia bertanya
              Dan aku mesti menjawabnya

Satu yang tersisa dan bisa kubisikkan...
                 Teruskan, katakan, buaikan, lidahkan, indahkan!
                 Dunia kata
                 Dunia keindahan

Aku disini akan terus tersenyum [dalam isakan]....

Sanggar, 20102010. 02.44.